Inflasi Australia Menurun, Meredakan Tekanan Kenaikan Suku Bunga RBA
Inflasi Australia melambat, membuat RBA (Reserve Bank of Australia) ragu-ragu, tetapi pergerakan suku bunga di masa mendatang tetap tidak pasti di tengah spekulasi pasar.
Tingkat inflasi Australia melambat pada bulan November, memberikan alasan bagi Reserve Bank of Australia (RBA) untuk mempertahankan kebijakan suku bunga saat ini sambil mengevaluasi dampak dari keputusan kebijakan sebelumnya.
Data yang dirilis Rabu oleh Biro Statistik Australia menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) utama meningkat sebesar 3,4% selama 12 bulan hingga November, lebih rendah dari perkiraan 3,6%. Ukuran rata-rata yang disesuaikan, indikator utama inflasi inti bagi bank sentral, turun menjadi 3,2% dari 3,3%, sesuai dengan ekspektasi para ekonom.
Pasar Bereaksi dengan Mengurangi Taruhan Kenaikan Suku Bunga
Angka inflasi yang lebih rendah memicu reaksi langsung di pasar keuangan. Para pedagang menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga pada bulan Februari, dengan probabilitas turun dari 40% menjadi 30%.
Di pasar mata uang, dolar Australia turun 0,2% setelah berita tersebut, sementara harga saham melanjutkan kenaikannya.
RBA Mengambil Sikap Menunggu dan Melihat
Data terbaru ini muncul setelah periode perubahan sinyal kebijakan dari RBA. Bank sentral telah terlibat dalam siklus pelonggaran antara Februari dan Agustus tahun lalu, memangkas suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin menjadi 3,6%, level yang belum pernah terlihat sejak April 2023.
Namun, kebangkitan kembali tekanan harga yang lebih baru menyebabkan Gubernur Michele Bullock menyatakan pada bulan Desember bahwa penurunan suku bunga lebih lanjut tidak akan dilakukan, dan mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga bisa menjadi langkah selanjutnya. Sentimen ini tercermin dalam notulen rapat terakhir RBA, yang mengungkapkan bahwa dewan telah membahas kondisi potensial yang akan mengharuskan kenaikan suku bunga lagi.
Semua Mata Tertuju pada Laporan Inflasi Januari
Bank Sentral Australia (RBA) diperkirakan akan mempertahankan kebijakan tetap stabil hingga dapat menganalisis laporan inflasi triwulanan komprehensif yang dijadwalkan akan dirilis pada 28 Januari. Setiap langkah kebijakan selanjutnya akan bergantung pada data ekonomi ini dan data ekonomi lainnya yang akan datang.
Saat ini, pasar uang memperkirakan kemungkinan besar kenaikan suku bunga pada bulan Mei. Namun, para ekonom masih terpecah pendapat mengenai langkah selanjutnya yang akan diambil bank sentral.


